Terima kasih atas karya yang saya tau tidak akan pernah tercipta tanpa ada kombinasi yang pas antara kemauan, rasa, dan hati <3 . Teruntuk, pemilik mata sayu itu, M. Fadli Fitriyan, terima kasih untuk kejutan bertubi-tubi hari ini
Intro
Langkahku tak seperti hari kemarin. Karena hari ini, ada dua kaki lagi yang menemaniku berjalan seiring. Kota Bandung ini terlalu besar untuk kuitari sendiri. Tapi hari ini, kota ini berubah menjadi kelereng kecil yang dengan mudah dapat aku genggam dan aku sentuh seluruhnya; saat bersamamu.
Kau tahu, aku tak perlu ungkapan rasa sayang atau apapun kata yang keluar dari mulut seseorang yang mengatasnamakan kasih sayang. Aku hanya perlu waktu, tatapan mata itu, dan kamu.
Waktu yang sengaja dibunuh untuk membuatku sejenak melepaskan besi panas yang tertancap di badanku. Tatapan mata yang selalu berbicara, “Tenang, ada aku.”
Dan kamu, Muhammad Fadli Fitriyan, yang menemaniku, membunuh hari bertambahnya usiaku.
***
Kalau ditanya apa yang bisa membuatku berhenti menangis, hingga detik ini aku pasti akan terus menjawab, “Kamu.”
—————————————————————————
Terima kasih untuk semua yang sudah mengucapkan yang tidak bisa disebutkan satu per satu
Mama, mama, mama, kakak, ade, dan papa atas segala perhatian dan limpahan kasih sayang tanpa henti
Barudak pojok keramik yang udah ngasih surprise syukuran kecil2an, hatur nuhun :) (Cunge, Klanting, Dessy, Desu, Tresna, Nisa, Upi, Ninis, Channy, Agia, Dhewa, Batara, Anto, Hasnan)
Partner in crime saya, Dhientia Andani, terima kasih atas ide, skenario, naskah, sponsor untuk semua kejutan hari ini, terharu :’)
Dan kamu, M. Fadli Fitriyan, aku suka senyum itu, tatapan mata itu, perhatian itu, kejutan itu, terima kasih atas karya yang aku tau tak akan tercipta dalam sekejap mata :3
Terima kasih untuk hari ini:’)
Mencintaimu tak perlu rumus, logika, ataupun rangkaian kata
Tak usah kubelajar tentang mencari peluang dan berharap kumenjadi pemenang
Mencintaimu,
Amat sederhana…
.
Menghayati keberadaanmu cukup menjadi penenang
Batu pijakan untukku menghela napas
Dan pada gubukmu, tubuhku yang mulai merapuh, kan selalu berpulang
.
Menghambur…
Mendeteksi aroma tubuhmu…
Mencium tanganmu…
Dan dalam dekapmu, raga ini akan tertidur dengan sangat pulas…
.
Raga ini mungkin mulai lelah beradu dengan gravitasi
Atau mulai bosan ditelan oleh lumpur hisap
Atau bahkan malas terus digerayangi sumber api
.
Yang aku tahu,
Mencintaimu,
Itu sederhana…
Tak perlu aku bertendensi
Tak perlu kujatuhkan harga diri
Seperti yang mereka semua obral demi taraf kepongahan manusia bernama; eksistensi
Dunia dihadapanku, menampakkan sisi lainnya
Yang tak lagi sama, seperti dongeng Ibu di masa kanakku…
“Masih ingin kau mengenal Dunia, Nak?”
“Kapanpun. Tapi aku jengah dengan mereka, Bu”
“Tenanglah, Nak, Bumi hanya sedang berputar, dan mereka yang tak seimbang akan menerima ganjarannya.”
Tatapanku lekat menatap mata ibuku.
“Tidurlah.”
Kehangatan di matamu tetap sama, senyummu tak pernah berbeda; rendah hati dan tanpa tendensi.
Saat kita terjebak dalam dataran tanpa nama
Saat kata dan makna terus menghantui kita
Saat yang lain terus cari kesalahan kita
Kita bisa maafkan namun tak bisa lupakan
Saat yang lain tertidur dan kita masih terjaga
Saat kita menangis dan yang lain hanya terdiam
Saat lidah berkata dan yang lain tawakan kita
Saat teman hanya jadikan kita hiasan
Dimanaakah ini?
Siapaa aku ini?
Beban semakin berat
Dan jiwaku pun tersesat tanpa Ibu
Semakin sia-sia
Kan terus menghilang asa tanpa Tuhan
Saat waktu memburu di bawah alam sadar kita
Saat udara tak ramah lagi untuk dihirup
Saat rasa sakit tak lagi mampu terasa
Karena mereka terus coba hancurkan mimpi kita
Apakah kita akan terus menjadi manusia?
Sampai kapankah kita kan terus mampu bertahan?
Apakah semua akan terus menjadi sia-sia?
Mungkin setelah lewati suatu tiga pagi.
Yang seketika direnggut tanpa permisi,
kemudian dibawa lari…
.
Yang seketika direnggut tanpa permisi,
kemudian dibawa pergi…
.
Yang seketika direnggut biarlah pergi,
biar kan hadir pengganti…
.
Yang seketika direnggut biar dibawa lari,
biar ada asa yang terjadi setelah ini…
Aku bertanya, “Kenapa aku? Kenapa kau?”
Mendekat dan saling menatap
Kenapa kau? Kenapa aku?
…
Aku bertanya, “Kenapa dia? Kenapa mereka?”
Teraba, terdengar, terlihat, terasa
Kenapa mereka? Kenapa dia?
…
Aku bertanya, “Tempat apa ini?”
Kenapa ada aku, kau, dia, dan mereka
Kenapa?
…
Aku bertanya pada aku, “Kenapa aku bertanya?”
Kenapa bisa
Dari apa, tentang cara, bagaimana, seperti apa, kenapa?
…
Aku terus bertanya
Kenapa
Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah Ia bermakna apabila tak ada jeda?
Dapatkah Ia dimengerti jika tak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak?
Dan saling menyayang bila ada ruang?…
Kasih sayang akan membawa dua orang makin berdekatan, tapi Ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu
Nafas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi
Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali…
Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah
Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang…
Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat, janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung
Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring…
Spasi- Dewi Lestari
Kapan ya kita main layang-layang?
Kapan ya kita duduk dan berbaring di pantai lagi?
Kapan kita merenggangkan kaki di lantai besi?
Kapan kita keliling kota lagi?
Kapan ya?
Kapan ya kita bisa menikmati hari, tanpa harus membagi dengan ambisi dan kewajiban studi kita sendiri-sendiri?
Kapan ya?